Gagasan menempatkan komputasi kecerdasan buatan di luar angkasa mulai bergerak dari konsep menuju pengujian teknis. Google berencana melakukan uji orbit pertama melalui Project Suncatcher, inisiatif penelitian yang mengeksplorasi apakah infrastruktur komputasi AI berskala besar suatu hari dapat beroperasi di orbit rendah Bumi.

Prototipe satelit yang direncanakan ikut dalam misi rideshare Transporter-18 milik SpaceX bersama Planet Labs akan membawa Tensor Processing Unit atau TPU buatan Google. Tujuan awalnya bukan membangun pusat data antariksa yang langsung melayani pengguna, melainkan mengumpulkan data tentang bagaimana chip dan sistem pendukung bertahan di lingkungan orbit.

Lingkungan antariksa memberi tantangan berbeda

Chip komputer di Bumi bekerja dalam lingkungan yang relatif dapat dikendalikan. Suhu ruangan, pendinginan, pasokan listrik, dan perlindungan perangkat bisa diatur di pusat data. Di orbit, perangkat harus menghadapi getaran dan tekanan saat peluncuran, radiasi, perubahan suhu ekstrem, serta risiko kesalahan data akibat partikel berenergi tinggi.

Radiasi menjadi perhatian penting karena dapat memengaruhi komponen elektronik dan menyebabkan bit data berubah. Sistem yang dirancang untuk pusat data di Bumi perlu diuji ulang agar dapat bekerja dengan tingkat keandalan yang dibutuhkan. Satu kesalahan kecil pada proses komputasi dapat memengaruhi hasil, sehingga pengujian harus mencakup deteksi dan pemulihan gangguan.

Pendinginan tidak bisa mengandalkan kipas biasa

Komputer berdaya tinggi menghasilkan panas. Di Bumi, kipas dan aliran udara membantu membawa panas dari komponen menuju sistem pendingin. Di ruang hampa, udara tidak tersedia untuk mengalirkan panas dengan cara yang sama. Karena itu, Google akan menguji pendekatan seperti pipa panas dan radiator yang membantu memindahkan energi termal lalu melepaskannya ke lingkungan.

Pengelolaan panas menjadi salah satu tantangan utama jika komputasi berdaya tinggi ingin diperluas di orbit. Desain radiator, orientasi satelit, material, dan pola operasi harus bekerja bersama. Kegagalan pengendalian suhu dapat menurunkan kinerja atau memperpendek umur perangkat.

Uji coba bukan bukti pusat data orbit sudah siap

Google menegaskan bahwa misi awal bertujuan mengidentifikasi masalah dan mengumpulkan data, bukan menunjukkan pusat data yang berfungsi penuh. Perusahaan telah menguji TPU di lingkungan darat, termasuk di fasilitas penelitian, tetapi kondisi orbit memiliki kombinasi risiko yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi di laboratorium.

Perusahaan juga merencanakan dua satelit tambahan pada 2027 untuk menguji komunikasi laser berbandwidth tinggi. Komunikasi antarsatelit yang cepat dan stabil dibutuhkan jika suatu saat beberapa wahana ingin bekerja sebagai jaringan komputasi. Tanpa jaringan yang andal, kapasitas pemrosesan di orbit tidak akan mudah diakses dari Bumi.

Potensi manfaat dan batas ekonominya

Pendukung konsep ini melihat peluang memanfaatkan energi surya dan mengurangi sebagian kebutuhan lahan serta pendinginan di darat. Namun, membawa perangkat ke orbit memerlukan biaya peluncuran, perawatan yang rumit, dan sistem cadangan yang kuat. Perangkat juga memiliki masa pakai dan menghadapi risiko puing antariksa.

Para ahli menilai kelayakan komersial masih membutuhkan waktu bertahun-tahun. Biaya pembuatan satelit, peluncuran, komunikasi, dan penggantian komponen harus dibandingkan dengan efisiensi pusat data di Bumi yang terus meningkat.

Riset penting untuk masa depan komputasi

Project Suncatcher menunjukkan bahwa kebutuhan komputasi AI mendorong perusahaan mengeksplorasi infrastruktur di luar pendekatan konvensional. Hasil pengujian dapat memberi pelajaran tentang ketahanan chip, sistem termal, dan komunikasi di lingkungan ekstrem.

Namun, pembaca sebaiknya membedakan antara eksperimen teknologi dan layanan komersial. Uji satelit pertama merupakan langkah penelitian yang menarik, tetapi belum berarti pengguna akan segera memakai AI dari pusat data yang mengorbit Bumi.