Korea Utara kembali menegaskan ambisinya dalam pengembangan teknologi drone dan sistem senjata tanpa awak. Pemimpin negara itu, Kim Jong Un, menyerukan keunggulan mutlak dalam teknologi drone ketika menghadiri pameran dan demonstrasi persenjataan. Ia juga menyebut penggunaan kecerdasan buatan tingkat tinggi dalam sistem senjata tanpa awak sebagai salah satu prioritas modernisasi militer.

Pameran menampilkan beragam sistem tanpa awak

Media pemerintah Korea Utara melaporkan bahwa pameran tersebut menampilkan drone serang bunuh diri taktis, rudal jelajah taktis, drone multiguna, dan sistem peluncur roket. Foto-foto yang dipublikasikan memperlihatkan berbagai wahana udara tanpa awak dengan rancangan berbeda, termasuk bentuk sayap terbang yang oleh sejumlah analis diidentifikasi sebagai kemungkinan drone siluman.

Dalam demonstrasi, ditampilkan pula gambar wahana tanpa awak yang menabrak kendaraan militer tiruan dan meledak. Materi tersebut menunjukkan bahwa Pyongyang ingin memperlihatkan kemampuan penggunaan drone bukan hanya untuk pengintaian, tetapi juga untuk menyerang sasaran di medan perang.

AI menjadi bagian dari modernisasi persenjataan

Penggunaan kecerdasan buatan dalam sistem militer dapat mencakup pemrosesan citra, pengenalan objek, navigasi, pengaturan rute, dan dukungan pengambilan keputusan. Namun, istilah AI militer tidak selalu berarti senjata sepenuhnya mengambil keputusan sendiri. Tingkat otonomi dapat berbeda-beda, mulai dari sistem yang membantu operator sampai perangkat yang mampu menjalankan sebagian tugas secara otomatis.

Kim menyatakan bahwa pengembangan AI untuk senjata tanpa awak perlu diprioritaskan. Pernyataan itu sejalan dengan upaya Korea Utara memperkuat kemampuan drone dalam beberapa tahun terakhir. Media negara sebelumnya melaporkan perintah untuk memperbanyak produksi drone serang dan uji coba versi yang dilengkapi kemampuan AI.

Pelajaran dari perang modern

Konflik di Ukraina dan Timur Tengah memperlihatkan bahwa drone berbiaya relatif rendah dapat digunakan untuk pengintaian, mengganggu logistik, menyerang kendaraan, serta memaksa lawan mengeluarkan sumber daya untuk pertahanan udara. Perkembangan tersebut mendorong banyak negara meninjau kembali strategi militer dan mempercepat pengembangan sistem tanpa awak.

Menurut penilaian intelijen Korea Selatan yang dikutip dalam laporan, lebih dari 16.000 personel Korea Utara telah dikirim ke Rusia sejak Oktober 2024. Pengalaman di medan perang disebut memberi mereka paparan terhadap penggunaan drone, peperangan elektronik, dan operasi gabungan. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara Pyongyang merancang pelatihan maupun sistem senjatanya.

Biaya, produksi massal, dan tantangan teknis

Sejumlah analis menilai Korea Utara memberi perhatian pada drone yang relatif murah dan dapat diproduksi dalam jumlah besar. Strategi ini dapat meningkatkan tekanan terhadap pertahanan lawan, karena sistem pencegat yang mahal mungkin harus digunakan untuk menghadapi perangkat yang jauh lebih murah. Namun, produksi massal tetap membutuhkan komponen elektronik, sensor, sistem komunikasi, perangkat lunak, dan rantai pasok yang stabil.

Drone yang mengandalkan AI juga menghadapi keterbatasan. Gangguan sinyal, cuaca, kesalahan identifikasi, dan perubahan situasi di lapangan dapat memengaruhi kinerja sistem. Penggunaan senjata otonom menimbulkan pertanyaan hukum dan etika, terutama mengenai siapa yang bertanggung jawab jika sistem salah mengenali sasaran atau menyebabkan korban sipil.

Ketegangan di Semenanjung Korea

Pameran tersebut berlangsung ketika hubungan Korea Utara dan Korea Selatan kembali tegang. Seoul menyatakan akan merespons dengan tegas setiap pelanggaran perbatasan, sementara Pyongyang mengecam latihan pertahanan udara gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat. Kedua pihak juga saling mengeluarkan pernyataan keras setelah insiden ranjau dan ancaman pengaktifan kembali pengeras suara propaganda di perbatasan.

Perkembangan drone dan AI militer menambah lapisan baru dalam persaingan keamanan kawasan. Teknologi tanpa awak dapat memperluas kemampuan pengintaian dan serangan, tetapi juga meningkatkan risiko salah perhitungan jika sistem digunakan dalam situasi yang tegang.

Pengawasan internasional tetap diperlukan

Modernisasi teknologi militer Korea Utara akan terus dipantau oleh negara-negara tetangga dan komunitas internasional. Transparansi mengenai kemampuan sistem, pencegahan insiden, dan jalur komunikasi militer menjadi penting agar perkembangan teknologi tidak memperbesar risiko konflik. Drone dan AI dapat mengubah cara perang berlangsung, tetapi keputusan politik dan perlindungan warga sipil tetap harus menjadi perhatian utama.