Ketegangan perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada awal 2026 kembali memperlihatkan betapa rentannya pasar energi terhadap gangguan jalur pelayaran. Selat Hormuz merupakan salah satu koridor penting bagi pengiriman minyak dunia. Ketika kapal tanker tertahan dan produsen harus menyesuaikan operasi, pasar segera memperhitungkan kemungkinan pasokan yang lebih ketat.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi 71 dolar AS per barel dari sebelumnya 66 dolar. Proyeksi West Texas Intermediate (WTI) juga dinaikkan menjadi 67 dolar dari 62 dolar per barel. Perubahan itu mencerminkan perkiraan gangguan arus minyak yang lebih lama, bukan kepastian bahwa harga akan berada pada level tersebut.
Mengapa Selat Hormuz sangat penting
Selat Hormuz menghubungkan kawasan produsen energi Teluk Persia dengan pasar internasional. Sebagian besar minyak yang diekspor dari sejumlah negara Teluk harus melewati jalur sempit ini sebelum menuju Asia, Eropa, dan wilayah lain. Karena alternatif rute pipa dan pelabuhan tidak selalu mampu menggantikan seluruh volume, gangguan di selat dapat menimbulkan efek berantai pada biaya pengiriman, asuransi, dan jadwal pasokan.
Dalam kondisi normal, arus kapal yang stabil membantu pembeli memperkirakan kapan minyak mentah dan produk olahan akan tiba. Ketika risiko keamanan meningkat, perusahaan pelayaran dapat menunda perjalanan, mengubah rute, atau meminta premi asuransi lebih tinggi. Biaya tambahan itu kemudian masuk ke dalam perhitungan harga energi.
Perubahan asumsi pasar dan cadangan strategis
Dalam proyeksinya, Goldman memperkirakan aliran minyak melalui Selat Hormuz dapat turun ke sekitar 10 persen dari tingkat normal selama 21 hari, lalu pulih secara bertahap selama 30 hari. Asumsi ini lebih panjang dibanding perkiraan gangguan sebelumnya. Jika arus tetap rendah lebih lama, harga harian berpotensi mengalami lonjakan yang jauh lebih besar daripada proyeksi rata-rata kuartalan.
Respons kebijakan juga menjadi bagian penting. Negara-negara anggota Badan Energi Internasional menyepakati pelepasan cadangan strategis hingga 400 juta barel untuk meredam tekanan pasokan. Namun, cadangan tidak dapat langsung menggantikan seluruh minyak yang hilang. Kapasitas pemuatan, transportasi, lokasi penyimpanan, dan kemampuan kilang menentukan seberapa cepat minyak cadangan bisa sampai ke konsumen.
Dampak tidak berhenti pada harga bensin
Harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, logistik, penerbangan, dan produksi barang. Negara yang mengimpor energi dalam jumlah besar menghadapi risiko kenaikan tagihan impor dan tekanan terhadap nilai tukar. Perusahaan juga perlu menilai ulang biaya bahan baku dan pengiriman, sementara rumah tangga bisa merasakan dampak melalui ongkos perjalanan dan harga barang.
Besarnya dampak berbeda antarnegara. Negara yang memiliki produksi domestik, cadangan memadai, atau sumber energi alternatif mungkin lebih mampu menyerap guncangan. Sebaliknya, negara yang sangat bergantung pada impor dan memiliki ruang fiskal terbatas dapat menghadapi pilihan kebijakan yang lebih sulit.
Harga minyak tetap dipengaruhi banyak faktor
Perkiraan harga bukan ramalan yang pasti. Permintaan global, produksi negara non-Timur Tengah, keputusan organisasi produsen, kondisi ekonomi, dan perkembangan diplomatik dapat mengubah arah pasar. Bahkan jika gangguan pelayaran mereda, pemulihan stok dan kapasitas pengiriman membutuhkan waktu.
Karena itu, perkembangan di Selat Hormuz perlu dibaca bersama data produksi, persediaan, dan kebijakan cadangan. Pasar energi sedang menilai bukan hanya berapa banyak minyak yang tersedia hari ini, tetapi juga seberapa dapat diandalkan pasokan untuk beberapa bulan berikutnya.
Pelajaran bagi konsumen dan pembuat kebijakan
Krisis ini menegaskan pentingnya diversifikasi sumber energi, efisiensi konsumsi, dan kesiapan cadangan. Bagi pemerintah, transparansi mengenai stok dan skenario harga membantu menjaga kepercayaan publik. Bagi dunia usaha, perencanaan logistik dan kontrak pasokan yang lebih fleksibel dapat mengurangi risiko gangguan mendadak.
Selat Hormuz mungkin berada jauh dari sebagian besar konsumen, tetapi perubahan di jalur tersebut dapat terasa dalam biaya hidup sehari-hari. Selama risiko geopolitik belum mereda, harga minyak akan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan keamanan dan diplomasi.